• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram Youtube

TAKATIL TEAM BLOG

 Part 13 
Rindu

Abi pov
Aku memejamkan mataku sambil bersandar 
di kursi pesawat, dalam penerbanganku ke Sumatera. 
Pertanyaan Arini, sangat mengganggu pikiran, dan juga perasaanku.
‘Hhhh ... Arini, kenapa harus kamu tanyakan 
pertanyaan yang sebenarnya sangat kamu tahu dengan pasti apa jawabannya?.
Kamu sudah tahu, kalau aku patah hati dengan Mamahmu. Kamu sudah tahu, kalau cintaku selama ini hanya untuk Mamahmu.
Aku mencintainya, sangat mencintainya.
Dia cinta pertamaku, dan aku pernah berharap dialah cinta terakhirku.
Saat aku pergi untuk kuliah ke luar negeri, aku memintanya untuk menungguku, menunggu aku untuk melamarnya.
Masih teringat saat perpisahan dulu. Airin menangis dalam dekapanku.
Dia mengatakan, kalau dia mencintaiku.
Dia mengatakan, kalau dia akan merindukanku.
Dia mengatakan, kalau dia akan sabar menungguku.
Aku memeluknya....
Aku menciumnya....
Ciuman pertama kami, yang juga ternyata adalah ciuman terakhir kami.
Tapi apa yang terjadi.
Dia menghianatiku dengan temanku sendiri.
Dia meninggalkanku dengan luka dihati.
Dia mengingkari janjinya kepadaku.
Itu menyakitiku ... sangat sakit.
Tapi, aku tidak pernah bisa membencinya.
Cintaku untuknya tetap terjaga hingga ia menutup mata, dan mungkin hingga saat iini.


Silahkan Lihat Video di bawah ini untuk Melanjutkan Ceritanya.. ⬇️⬇️
https://youtu.be/Bmi0WTbS8YA



Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 Part 12 
Tentang Airin

Abi masuk ke dalam kamar.
Arini yang tadinya duduk di tepi ranjang langsung berdiri.
Matanya menatap cemas kearah Abi.
“Om!?”
Abi mendekati Arini yang sudah mandi. Mencium aroma wangi tubuh Arini.
“Wangi.... “ katanya sambil mengecup rambut basah Arini.
Arini mendongak menatap wajah Abi yang tubuhnya jauh lebih tinggi darinya. Abi menundukan wajahnya. 
Tangannya menarik pinggang, dan tengkuk Arini Bibirnya melumat bibir Arini lembut. Satu tangan Arini melingkar di leher Abi, yang satu lagi mengelus punggung Abi.
Abi sudah lupa, kalau Mamah, dan Papahnya tengah menunggu mereka di ruang tengah, bahkan pintu kakar tidak tertutup dengan rapat. Sedang Arini tisak sempat bertanya, apakah orang tua Abi sudah pulang, atau belum.
“Arini.... “ bisik Abi di telinga Arini.
“Om ... enghhh ... geli ... Om ... enghhh, Om.... “ Arini bergidik, karena merasakan geli saat Abi menggigit-gigit telinga, dan kulit lehernya.
Kriiuukk ... kriuukk.... Perut Arini berbunyi.
Abi mengangkat kepala, lalu melepaskan tangan dari tubuh Arini.
“Kamu lapar?” Pertanyaan Abi membuat wajah Arini memerah.


Silahkan Lihat Video di bawah ini untuk melanjutkan Ceritanya.. ⬇️⬇️
https://youtu.be/qF1avZeVoE0



Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 Part 11 
Katakan Cinta Padaku

“Mamah ... Papah,” gumam Abi.
Arini makin mengkerut di belakang punggung Abi.
“Abi, apa-apaan ini! Pantas saja kamu tidak mau Mamah nikahkan lagi, ternyata begini kelakuanmu, membawa wanita ke apartemenmu, berzinah di kamarmu, Mamah kecewa sama kamu!” Pekik Bu Anggun, Mamah Abi dengan sangat emosi.
“Kami tidak berzinah Mam,” sahut Abi.
“Tidak berzinah, lalu apa yang kamu lakukan tadi? 
Kalau Mamah tidak datang, kalian pasti su.... “
“Dia istriku, Mamah, sah,” sahut Abi, sebelum 
Mamahnya meneruskan kalimatnya.
‘Dan, kalau Mamah tidak datang kami pasti sudah memulai membuatkan cucu buat Mamah,’ sambung Abi di dalam hatinya.
“Istri ... sah ... apa maksudmu Abi?” Suara Bu Anggun mulai diturunkan volumenya.
“Ayolah kita bicara di ruang tengah saja, tidak enak bicara di sini dalam keadaan seperti ini, ayo Mam. Abi ajak dia ke ruang tengah juga,” kata pak Bisma, ayah Abi sambil meraih bahu istrinya.
Abi memutar tubuhnya menghadap ke arah Arini yang masih berdiri dengan tubuh gemetar di belakangnya.
“Ayo, kita ke ruang tengah,” ajak Abi sambil menggenggam jemari Arini.
“Aku takut.”
“Jangan takut.”
“Bagaimana kalau kita disuruh pisah?” Tanya Arini dengan air mata yang menggantung di pelupuk matanya.
“Kenapa berpikir seperti itu?”
“Mamah Om bilang tadi ingin menikahkan Om deng....“
“Psssttt ... jangan bicara yang tidak-tidak.” 

Abi meletakan jarinya di atas bibir Arini.


Silahkan Lihat Video di Bawah ini untuk Melanjutkan Ceritanya ⬇️⬇️
https://youtu.be/YgPbkaRj1Zc



Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 Part 10 
Kepergok

Setelah sholat subuh.
“Aku masih mengantuk, masih capek, kita tidur lagi yuk.... “ ajak Abi.
“Kita?” Arini menatap Abi dengan mengerutkan keningnya.
“Keberatan kalau aku sebut kamu, dan aku itu kita?” Tanya Abi.
Kepala Arini menggeleng.
“Ayolah!” Abi menarik Arini untuk naik ke atas ranjang, lalu memeluk Arini erat. Abi memejamkan mata, begitu pula Arini. Entah berapa lama mereka tertidur.
Abi membuka matanya pelan.
Dipandang wajah Arini yang ternyata sudah bangun lebih dulu.
Cup....
Dikecup pipi Arini.
“Pagi Arini.”
“Sudah siang Om, sudah jam sembilan, Om tidak ke kantor?”
“Nanti agak siangan saja ke kantornya, aku masih capek.”
“Memangnya, Om kemaren kemana?”
“Banjarmasin.”
“Eeh ... ke Banjarmasin, ada apa?”
“Ada urusan pekerjaan.”
“Ooh.... “
Hening sesaat.
“Om.”
“Hmmm?”
“Buat Om, aku itu apa?”
“Eeh ... kok bertanya seperti itu, kenapa?”
“Iih, Om ditanya malah balik bertanya, menyebakan!” Arini memutar badannya untuk memunggungi Abi, tapi tubuhnya masih tetap dalam lingkaran tangan, dan kaki Abi.
Abi tertawa pelan.
“Ternyata kamu ngambekan ya,” goda Abi. Bibirnyamengecup rambut Arini.


Silahkan Lihat Video di bawah ini untuk Melanjutkan Ceritanya ⬇️⬇️
https://youtu.be/0c6fWifiN-M



Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 Part 9 
Berikan Aku Ciuman

Arini meraih ponselnya, ia membaca semua 
pesan yang masuk dari ketiga sahabatnya, juga dari Fathan.
Rin, aku tidak tahu apakah suatu kebenaran apa yang dikatakan Om Abi, kalau dia adalah suamimu. Tapi, yang aku tahu dengan pasti Rin, tidak ada yang berubah pada hatiku.

Aku masih tetap mencintaimu, mengharapkanmu. 
Entah kenapa ada keyakinan dalam hatiku, kalau pernikahan kalian, bukanlah pernikahan sebagaimana mestinya sebuah pernikahan yang didasari cinta.
Aku akan tetap berusaha mendapatkan cintamu Rin...Aku cinta kamu Rin... sangat mencintaimu.
Itu pesan dari Fathan Effendi.
Arini terdiam sesaat.
‘Kak Fathan, ingin... ingin sekali aku membalas cintamu, andai aku bisa.

Tapi sayangnya, hatiku sudah terjerat pada orang lain, maafkan aku, KakFathan,’ batin Arini.
Dibuka pesan dari sahabat-sahabatnya. Semua menanyakan tentang kebenaran dari pengakuan Om Abi semalam.
Apa benar Om Abi suami Arini?
Kenapa Arini tidak pernah bercerita?
Seperti apa sebenarnya pernikahan mereka?
Arini menghela nafas, tidak ada niat untuk membalas pesan dari mereka. Diletakan ponsel di atas meja. Lalu ia berjalan menuju lemari.

Arini mengambil satu kaos oblong Abi dari dalam lemari.
Arini masuk ke dalam kamar mandi, ia mencuci dalamannya, pikirnya biarlah hari ini pakai baju tanpa dalaman, toh dia sendirian di sini.

Setelah mandi, Arini menghabiskan waktunya di depan televisi.


Silahkan Lihat Video di bawah ini untuk Melanjutkan Ceritanya.. ⬇️⬇️
https://youtu.be/s86cD1ihnqY




Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 Part 8 
Dipeluk Kamu

Arini terbangun, dilihat jam di atas meja 02.25. 
Dilihat tempat di sebelahnya, masih utuh. Bantal, dan guling juga masih di tempatnya.

Arini bangun dari rebahnya, ia turun dari ranjang, lalu membuka pintu kamar.
Dilihatnya Abi tidur di sofa, sebelah kakinya jatuh ke lantai.
Satu tangan menutupi matanya, yang satu lagi ada di atas dada.
“Om, Om.... “ Arini berjongkok di sisi Abi, lalu menepuk lengan Abi.

Tangan yang menutupi mata Abi turun, mata Abi mengerjap.
“Enghh, ada apa?” Tanyanya dengan suara parau.
“Tidurnya pindah ke kamar, Om, pasti pegel tidur di sini.”
“Eeh, apa?”
“Tidurnya pindah kenkamar.”
“Kamu tidak takut sama, Om?” Abi bangun dari berbaringnya.
“Takut?”
“Om ini, laki-laki normal Arini.”
“Oh ya, senormal apa, Om?”
“Eeh, apa maksudmu?” Abi menatap lekat wajah Arini.  

Arini duduk di sebelahnya, kaos nya terangkat, hingga paha mulusnya terlihat jelas.
“Jangan menggoda Om, Arini,” Kata Abi pelan.
“Aku tidak menggoda, Om.

Aku hanya kasian, Om tidur di sofa, sedang ranjang cukup besar untuk kita berdua,” jawab Arini.
“Kembali saja ke kamarmu, tidak apa Om tidur di sini.”
“Terserah Om saja, pintu kamar tidak aku kunci, Om bisa masuk, dan tidur di ranjang kalau Om mau.”

Arini berdiri lalu melangkah kembali ke kamar.


Silahkan Lihat Video di bawah ini untuk Melanjutkan Ceritanya ⬇️⬇️
https://youtu.be/zRYyqCgZXAI




Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 Part 7 
Gadis Kecil


Arini masuk ke dalam mobil, ia duduk diam 
menunggu Abi yang memutari mobil, Abi masuk ke dalam mobil. 

Abi menunggu Arini memasang safety beltnya, tapi Arini diam saja. 

Abi terpaksa mencondongkan badan, untuk 
memasangkan safety belt Arini.
Arini terjengkit kaget sesaat, kemudian diam dengan pandangan ke luar jendela.
“Apa yang sebenarnya terjadi di dalam tadi Arini?” Abi bertanya, sesaat setelah mobil ia bawa ke luar dari parkiran cafe. 

Arini menatap Abi sesaat.
“Ada yang mabuk, lalu berkelahi, aku tidak tahu apa yang mereka ributkan,” jawab Arini pelan.
“Kenapa kamu sampai jatuh di lantai?”
“Karena mereka berkelahi tepat di dekatku, jadi aku berusaha melerai, tapi aku malah terdorong jatuh, karena mereka saling pukul.”
Abi menarik nafas dalam.
“Hhhh ... sebaiknya, jangan pernah lagi datang ke acara seperti itu Arini.”
Arini menganggukan kepala.
“Ya Om,” sahut Arini.
“Satu lagi, jauhi Fathan!” Suara Abi terdengar tajam.
Arini menatap Abi.
“Dia yang pasti akan menjauhiku Om, bukan cuma dia,
mungkin semua laki-laki di kampus tidak ada lagi yang berani mendekatiku. 

Karena Om dengan jelas sudah mengatakan kalau Om itu, suamiku.... “ kata Arini pelan.

Abi terdiam mendengar ucapan Arini. 

“Maafkan Om, Arini, kamu masih boleh memilih lelaki mana saja untuk kamu cintai, tapi jangan Fathan.”
Mendengar kata-kata Abi, justru membuat Arini jadi penasaran.
“Bagaimana jika Fathan, lelaki pilihanku?” Tanya Arini menantang. 

Tanpa diduga, Abi menghentikan mobilnya di tepi jalan.


Silahkan Lihat Vidoe di bawah ini Untuk Melanjutkan Ceritanya ⬇️⬇️
https://youtu.be/EQY9OPIBjpg



Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 Part 6 
Terbukanya Rahasia


Arini setengah berlari menuruni tangga. Takut Abi menunggunya terlalu lama di meja makan untuk sarapan.

Tapi tidak ada siapa-siapa di ruang makan.

Di atas mejapun hanya ada satu piring nasi goreng, dan satu gelas air putih.

“Om Abi mana, Bik?”

“Mas Abi tadi malam kembali ke apartemennya, Non,” jawab Bibik.
“Keapartemen..tadi malam?jam berapa?”.
“Jam dua belasan non”jawab bibik.
“Oh.... “ Arini ber ‘oooh’ panjang untuk menutupi rasa kecewanya.
Kecewa karena apa, Arini juga tidak tahu, yang jelas ia jadi tidak selera sarapan.
Arini akhirnya pergi kuliah tanpa menghabiskan sarapannya.
Ia memarkir motor maticnya diparkiran kampus. 
Tiga sahabatnya berjalan mendekatinya. 
“Rin!” Panggil Ina, sedikit ragu, takut Arini tidak perduli lagi pada mereka, karena Arini tidak membalas pesan yang mereka kirimkan. 
“Hayy, pagi semua,” sapa Arini ceria. 
“Kamu tudak marah lagi, Rin?” Ina menatap wajah Arini yang sedang mengukir senyum di bibirnya.
Arini menggelengkan kepala, sebagai jawaban atas pertanyaan Ina. 
“Kalian sahabat terbaikku, aku percaya dengan kalian,” jawab Arini. 
“Terima kasih ya Allah, kami sudah takut kamu marah,” kata Lisa. 
Mereka berempat berpelukan. 
“Jangan sampai persahabatan kita putus ya, kita sudah dari satu SMP bersahabat, dan semoga kita konpak selalu, aamiin.... “ doa Ina, di aamini tiga sahabatnya. 
“Rini!” Suara Fathan terdengar memanggil Arini dari belakang mereka.

Silahkan Lihat Video di bawah ini untuk Melanjutkan Ceritanya ⬇️⬇️
https://youtu.be/ofBzFebXxrg



Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 Part 5 
My First Kiss


Usai berolah raga, Arini, dan Abi duduk di bawah pohon, dengan masing-masing menghadapi satu mangkok bubur ayam di hadapannya.
“Sudah lama dekat sama dia?” Tanya Abi tiba-tiba.
“Dia, siapa?” Arini balik bertanya karena bingung.
“Pacarmu, siapa namanya, Om lupa.”
“Ooh Fathan, Fathan Effendi.”
“Ya Fathan, sudah lama dekat?” Tanya Abi lagi.
“Dari mulai masuk kuliah,” jawab Arini, tanpa berusaha meralat, saat Abi menyebut Fathan sebagai pacarnya.
“Hmmm ... Om cuma ingin mengingatkan, agar kamu bisa menjaga dirimu, dan kehormatanmu sebagai wanita. 
Kamu boleh pacaran dengan lelaki manapun yang kamu suka, Om tidak akan melarang, tapi ingat pesan Om itu ya. 
Karena, Om berhutang janji untuk menjagamu pada Airin, Mamahmu.” 
Abi bicara pelan, tatapannya jauh ke depan. 
Arini tidak dapat menahan diri, untuk tidak menatap Abi saat mendengar getaran disuara Abi, saat Abi menyebut nama mamahnya. 
‘Apakah om Abi begitu mencintai mamah, sampai ia tidak bisa mencintai wanita lain. 
“Kenapa?” Tanya Abi yang merasa Arini menatapnya tak berkedip. Arini tergeragap, lalu menggeleng. 
“Nikmati saja hidupmu sebagaimana gadis seusiamu Arini, kamu tidak perlu merasa terbebani dengan statusmu sebagai istriku.
Aku akan tetap memegang janjiku, kamu boleh memilih lelaki mana yang ingin kamu nikahi nanti.  
Bila saat itu tiba, aku akan melepaskan ikatan kita.” Ucap Abi pelan, nyaris berbisik. 
Arini ingin menangis, tapi tidak tahu kenapa. 
“Om akan menjagamu sampai waktu itu tiba,” kata Abi lagi.

Silahkan Lihat Video di bawah ini untuk Melanjukan Ceritanya ⬇️⬇️
https://youtu.be/FhaGBNrNJGo



Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 Part 4 
Pertengkaran



Sore ini, Arini sudah ada janji bertemu di mall dengan ketiga sahabatnya.

Mereka mau shopping, makan, dan nonton.

Sebenarnya tidak shopping, tapi cuma lihat-lihat saja. 

Mereka asik melihat-lihat pakaian, ketika tiba-tiba Lisa menunjuk ke suatu arah.

“Eeh, itu Om Abi, itu perempuan yang kemaren bukan ya?” Lisa menatap Abi, dan Anggerk.

Serempak tiga temannya melihat ke arah yang ditunjuk Lisa.

“Om Abi, uuhh ... itukan perempuan yang kemaren,” kata Riri.

“Iya benar,” sahut Ina.

Hanya Arini yang diam tak bersuara.

“Duuuhhh, enaknya gelendotan di tangan kekarnya Om Abi,” kata Riri. 

“Apanya ya tuh perempuan, selingkuhannya, atau simpanannya, atau apa ya?” Lisa menatap, seakan tanpa berkedip. 

“Aduuhhh kalian ini, sudah jangan dipikirin, yuuk kita nonton saja sekarang!” Ina menarik lengan Lisa, dan Riri.  

Arini mengikuti saja langkah ketiga sahabatnya.

Baru saja Arini menjatuhkan pantatnya di kursi bioskop. 

“Arini,” suara yang sangat dikenalnya memanggil namanya. 

“Kak Fathan.... “ desis Arini.

Arini menatap marah pada sahabat-sahabatnya.

Arini yakin pasti mereka sudah mengatur semua ini.

Arini langsung ke luar, tidak perduli panggilan ketiga sahabatnya. 

“Arini, tunggu! Aku ingin bicara,” Fathan menahan lengan Arini saat mereka sudah berada di luar. 

Beberapa pasang mata memperhatikan mereka.


Silahkan klik video di bawah ini untuk melanjutkan Ceritanya ⬇️⬇️

https://youtu.be/kXA2DEJTZcc



Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 Part 3 
Pertemuan


Pulang kuliah, Ina mengajak tiga sahabatnya makan siang bersama, dia yang mentraktir mereka makan. 
Motor Lisa, Arini, dan Riri, ditinggal di parkiran kampus, mereka naik mobil Ina untuk menuju rumah makan. 
Diperjalanan, tba-tiba, mobil Ina mogok di tempat yang agak sepi.
Keempat gadis itu ke luar dari dalam mobil. Ina membuka kap mobilnya.
“Memangnya kamu mengerti soal mesin, Na?” Arini mendekati Ina.
“Enggak” Ina menggeleng.
"Bensinnya barangkali, Na” Lisa juga mendekat.
“Pagi tadi, sudah aku isi full,” jawab Ina.
“Telpon bengkel langganan mu, Na,” usul Arini.
“Aku nggak tahu Rin. Yang biasa membawa ke bengkel, Abangku.” 
“Jadi bagaimana dong?” Tanya Lisa. Belum lagi pertanyaan Ina terjawab, ketika sebuah mobil berhenti di depan mereka. 
Seorang lelaki ke luar dari mobil, dan berjalan mendekati mereka. 
Hampir saja terlompat sebuah nama dari bibir Arini saat melihat wajah lelaki itu. 
“Ada yang bisa aku dibantu?” Mata lelaki itu melirik ke arah Arini sekilas.
Ketiga sahabat Arini seperti tak mendengar pertanyaan lelaki itu, mereka seperti tersihir melihat ketampanan lelaki di hadapan mereka. 
“Hallo ... hayy ... ada yang bisa aku bantu?” Lelaki itu menggoyangkan telapak tangannya di hadapan ketiga sahabat Arini. 
“Ooh, iya ... Om..eeh ... Mas, mobilnya mogok!” Ina yang akhirnya menjawab. 
“Coba saya liat dulu ya,” lelaki itu menggulung lengan bajunya samai ke siku, lalu melonggarkan dasi di lehernya, ia menyelipkan ujung dasi ke balik kancing kemejanya.
Entah apa saja yang diutak atiknya.

Silahkan Lihat Video di Bawah ini untuk Melanjutkan Ceritanya ⬇️⬇️

https://youtu.be/C6ifObIjsg8



Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 Part 2 
Memulai Hidup Baru


Arini membuka matanya.

“Aku dimana?” Arini mengedarkan pandangannya.

“Di rumahku,” jawab Abi singkat.

Arini memperhatikan baju yang dipakainya.

“Siapa yang mengganti bajuku?” Ditatapnya wajah Abi dengan rasa ingin tahu.

“Aku.”

“Om?” Mata Arini melebar, pipinya memerah.

“Jangan berpikir macam-macam, aku hanya mengganti baju luarmu, dan menghapus riasan wajahmu, itu saja.”

Abi merasa tidak senang dengan sorot mata Arini yang tengah menatapnya.

Arini hanya diam mendengar jawaban Abi, meskipun terbersit rasa tidak rela, karena Abi sudah menyentuhnya.

“Anak buahku sudah mengurus pendaftaran kuliahmu.

Minggu depan, kamu sudah bisa mulai masuk kuliah,” kata Abi tanpa menatap ke arah Arini. 

“Terimakasih om,” jawab Arini singkat.

“Satu lagi Arini, soal pernikahan ini, kamu jangan takut, aku tidak akan memintamu melaksanakan kewajibanmu sebagai istriku.

Kamu bisa hidup sebagaiman gadis susiamu.” 

“Terima kasih, Om.” Arini menganggukan kepala.

“Kamu ingin makan di sini, atau ikut makan siang di meja makan?” Tanya Abi. 

“Ikut makan di meja makan saja,” jawab Arini.

“Ayolah,” Abi mengulurkan tangannya, bermaksud membantu Arini berdiri, tapi Arini mengabaikan uluran tangan Abi. 

Abi menarik uluran tangannya yang diabaikan Arini, ia berjalan terlebih dahulu menuju pintu, ia ke luar dari dalam kamar, lalu menuruni anak tangga, untuk menuju ke ruang makan.

Arini mengikuti langkah Abi di belakang.


Silahkan Lihat Video di bawah ini untuk Melanjutkan Ceritanya ⬇️⬇️

https://youtu.be/331Pks5oPMk



Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 Part 1
Akad Nikah



“Saya terima nikah, dan kawinnya Arini Artaputri binti Artaputra Wicaksana dengan mas kawin tersebut tunai!”

Lantang, dan tegas dalam satu tarikan nafas, Abi melafalkan ijab kabulnya.

“Bagaimana saksi, apakah sah?” “Sah!”

“Bagaimana, apakah sah?” “Sah!”

Usai prosesi akad nikah, dan sebagainya, Arini merasakan kepalanya pusing, ia merasa semua terasa begitu tiba-tiba.

Terlalu tiba-tiba untuk mendapat gelar baru sebagai seorang istri.

Apa lagi dia harus menikah dengan seorang lelaki yang dulu mencintai ibunya.

Dia lelaki itu om Abi, atau legkapnya Abimana Pratama.

Lelaki yang harus menikahinya, yang menurut opa Heru, dan oma Wina, kakek, dan nenek angkatnya, demi melindungi dirinya dari keluarga almarhum orang tuanya yang menikah tanpa persetujuan alias kawin lari.

Keluarga besar ibunya, dan keluarga besar ayahnya adalah musuh bebuyutan yang sudah berseteru empat generasi.

Menurut opa Heru, Kakeknya sudah bersumpah akan menghabisi kedua orang tuanya, dan keturunannya jika menemukan mereka.

Jika Arini menikah dengan Abi, maka Arini akan aman, karena keluarga Abi adalah keluarga yang sangat disegani oleh keluarga kedua orang tuanya.

Walaupun opa Heru berharap, Arini tidak akan pernah bertemu dengan keluarga kedua orang tuanya.

Arini memijit kepala, matanya berkunang-kunang, setelahnya Arini tidak ingat apa-apa lagi. Arini pingsan.


Silahkan lihat Video di bawah ini untuk Melanjutkan Ceritanya ⬇️⬇️

https://youtu.be/K40x5zCImcY




Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
  • Youtube

Categories

  • Internet
  • Kumpulan Novel
  • Membuat Email
  • Mempercantik Blog
  • Naruto Shippuden
  • OLAH RAGA
  • Tips Computer

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • January 2023 (5)
  • January 2022 (4)
  • December 2021 (10)
  • November 2021 (6)
  • October 2021 (5)
  • September 2021 (19)
  • August 2021 (3)
  • November 2013 (1)
  • October 2013 (6)
  • August 2013 (3)
  • July 2013 (1)
  • June 2013 (1)
  • April 2013 (2)
  • March 2013 (3)
  • December 2012 (10)
  • November 2012 (1)
  • October 2012 (5)
  • September 2012 (8)
  • May 2012 (1)

Copyright © 2023 Takatil Team. All Rights Reserved. Created with by ThemeXpose