• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram Youtube

TAKATIL TEAM BLOG

 ~Part 39~
I Love You

Bibir mereka saling pagut. 
Jari mereka saling menggenggam. 
Peluh mereka menyatu. 
Suara desahan menjadi satu dengan nafas yang memburu. 
Hingga pendakian mereka sampai ke puncaknya bersama. 
Abi mengecup kening Arini lembut. 
“Aku cinta kamu, Arini. 
Mencintaimu hingga akhir hidupku,” bisik Abi. 
Bibir Arini tersenyum meski matanya terpejam. 
“I love you too, Om.” 
“Eeh, aku’kan bilang aku cinta kamu, kok jawabnya i love you too, sih?”
 Arini membuka matanya.
 “Salah ya? 
Aku cinta kamu, aku jawab i love you too.
Iiiih, Om salahnya di mana?
 Benar sajakan begitu?” 
Arini menatap Abi bingung. 
“Yang bilang salah siapa? 
Aku cuma bertanya, jawabannya kok begitu?” Abi tertawa.
 “Iiih, Om!” Arini memukul pelan lengan Abi yang memeluknya. 
“Hehehe ... kalau sudah selesai tempur baru bercanda, kan enak, Sayang.”
 “Capek, Om!” sengit Arini. 
“Kalau capek, main ular tangganya seminggu sekali saja, Sayang.” 
“Seminggu sekali, deal deh!” 
Arini menyodorkan tangannya mengajak bersalaman. 
“Oke deal!”
 balas Abi menjabat tangan Arini. 
Abi tertawa dalam hatinya. 
‘Lihat saja, Arini. Kamu tidak tahan, nanti subuh saja, pasti dia sudah ingin lagi,’
 gumam Abi di dalam hati. 
‘Eeh ... kok deal? Ya ampun, otakku’kan sekarang mesum sekali. 
Melihat adegan ciuman dari drama Korea kesukaanku saja, aku langsung ingat Om Abi. 
Bagaimana ini, tahan tidak ya seminggu sekali.... ‘ 
“Om ... Om” panggil Arini. 

Silahkan klik link atau lihat video di bawah ini untuk melanjutkan ceritanya....👇👇
https://www.youtube.com/watch?v=Rs4IstlHajM



Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 ~Part 38~
Bocah Besar

Mata Abi terbuka. 
“Apa? 
Punyaku asli tahu, tidak perlu pakai ramuan, memang sudah besar dari sananya!” 
Protes Abi kesal. 
Arini terkikik. 
“Bicara juga akhirnya,” 
Arini langsung berjongkok di atas tubuh Abi, ingin memasukan langsung milik Abi ke miliknya.
“Ya ampun, Sayang, masa langsung masukin saja?” 
“Terus aku harus berbuat apa dulu?” 
“Pemanasan dulu, Sayang. 
Orang olahraga itu perlu pemanasan, biar saat melakukan olahraganya tidak mudah cedera.
Begitu juga olagraga ranjang yang disebut bercinta, pemanasan dulu, biar otot-otot kita jadi tidak kaku dalam melalukan gerakan saat bercinta.” 
Abi menjelaskan panjang lebar.
Arini terkikik geli.
 “Om ini sebenarnya pengusaha, apa guru olahraga, atau guru bercinta siih?” 
“Arini!”
 “Hehehe ... iya ... jangan marah dong, Om. 
Sensitif sekali sih, seperti cewek lagi datang bulan saja.” 
“Arini!”
 “Hehehe ... maaf ya, Om Sayangku.”
 Arini naik ke atas badan Abi. 
Wajahnya mendekati wajah Abi. 
Bibirnya mencium bibir Abi pelan.
 “Pemanasan dimulai,” bisiknya pelan. 
Abi tersenyum, tangannya mengusap punggung Arini lembut. 
“Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, kali ini kamu kaptennya, aku hanya pasrah saja,”
 bisik Abi. 
“Hihihi ... Om lucu, mana ada cowok pasrah, dimanamana cewek yang pasrah, Om.” 
“Tapi posisi kitakan memang pas, kalau aku yang pasrah.” 
Arini mengamati posisi mereka. 
Tubuh telanjangnya duduk di atas perut Abi yang baru bagian bawahnya yang telanjang. 
Bagian atas tubuh Abi masih memakai kaos. 
“Lepas dong kaosnya, Om!”

Silahkan klik link atau lihat video di bawah ini untuk melanjutkan ceritanya....👇👇
https://www.youtube.com/watch?v=vu99LyGAeP4


Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

 ~Part 37~
Perekat Hati

Setelah dokter Angga memeriksa Arini. 
“Perasaannya agak tertekan sepertinya, Bi. 
Jaga perasaannya ya, kasian nanti bayinya kalau banyak pikiran,” pesan dokter Angga. 
Abi mengangguk. Ia genggam jemari Arini yang sudah sadar. 
“Bayi? 
Arini hamil?” tanya Bu Anggun. 
“Iya, Mam,” jawab Abi. 
“Kok kami tidak cerita?” tanya Bu Anggun gusar. 
“Makanya kami mengundang semuanya ke sini untuk memberi  tahu, kalau Arini hamil, Mam,” jawab Abi. 
“Aku pulang dulu, Bi,” pamit Dokter Angga. 
“Terima kasih banyak ya.”
 “Sama-sama, kalau ada apa-apa panggil saja aku,” kata Angga. 
“Siip,” sahut Abi. 
Bu Anggun yang ke luar mengantarkan dokter Angga, sementara Abi membantu Arini yang ingin bangun. 
“Mohon perhatian semuanya, sebelum kita makan malam bersama, ada kabar gembira yang ingin disampaikan Abi, dan Arini,” kata Bu Anggun. 
Arini dituntun Abi ke luar dari dalam kamar. 
“Kabar gembira apa?” tanya kakek Sanjaya. 
“Arini hamil,” jawab Abi.
 “Alhamdulillah,” sahut semuanya. 
“Artinya ada perekat di antara tiga keluarga, Sanjaya, Wicaksana, dan Pratama,”
 kata pak Bisma. 
“Takdir Allah memang luar biasa ya, Bisma. 
Pertikaian empat generasi berakhir dengan kehadiran Arini, cucu dari keluarga Sanjaya, dan Wicaksana Dan pertemanan dua keluarga bertikai dengan keluarga Pratama, yang selama empat generasi pula jadi penengah, akhirnya jadi satu keluarga dengan menikahnya Abi, dengan Arini, dan kini ditambah dengan akan hadirnya buyut kita Dimas, yang juga cucu dari Bisma. Aku jadi merasa sangat tua karena akan punya buyut... hahaha.... “ 
Pak Arman terharu sekaligus gembira. 
Tawanya diikuti yang lainnya.

Silahakan klik atau lihat video di bawah ini untuk melanjutkan ceritanya...👇👇
https://www.youtube.com/watch?v=yhxtBZt5fZI



Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

~ Part 36 ~
Sumpah Kakek

Pak Arman terdiam sesaat. “Benarkah aku pernah bersumpah seperti itu, Bisma?” 
Tanya pak Arman, matanya berkaca-kaca. 
“Ya itu sumpahmu, sesaat setelah mereka kawin lari, 
kemudian kamu menghapus nama Arta dari keluargamu, Arman. Apa kamu lupa?” 
“Bisma, mana mungkin aku sanggup melakukan itu, sekeras-kerasnya hatiku, Arta itu putra kesayanganku, penerus namaku, kalaupun sumpah itu pernah terlontar dari mulutku, itu hanya karena aku tengah dibakar amarah  dan rasa kecewa!” Pak Arman berhenti sesaat. 
“Mungkin kalian mengira aku tidak terluka, mungkin kalian mengira aku membencinya, kalian tidak tahu betapa berat penyesalan yang harus kurasakan karena telah mengusirnya. 
Kalian tidak tahu betapa keras usahaku menahan diri untuk tidak mencarinya, kalian tidak tahu.... “ Pak Arman mengarahkan pandangan kepada keluarganya. 
Arnita dan Bu Tata terus terisak sejak kedatangan Pak Arman. 
“Mungkin aku kejam, mungkin aku keras kepala, mungkin aku egois, tapi aku tetap seorang Ayah yang punya rasa cinta pada anaknya. Yang mengharapkan anaknya bahagia.” 
Pak Arman berhenti sesaat. 
“Kesalahanku saat itu adalah, aku tidak bisa menahan amarahku, aku tidak bisa berpikir jernih, hingga aku mengusir putraku. Itu kesalahan yang harus kusesali sepanjang sisa hidupku.” 
Pak Arman menundukan kepalanya. 
“Arman, jika sumpah itu memang tidak akan kamu lakukan, maka aku merasa sangat lega,” kata Pak Bisma.
 “Bisma, kenapa kamu bertanya tentang sumpah itu? 
Apakah Arta, dan Airin ada disini? Mana mereka, mana? 
Aku ingin minta maaf pada mereka Bisma.” 
Pak Arman menegakan kepalanya lalu menatap Pak Bisma penuh harap. 
“Arman, mereka berdua ... mereka berdua, sudah mendahului kita.” 

Silahkan klik link atau lihat video di bawah ini untuk melanjutkan ceritanya...👇👇
https://www.youtube.com/watch?v=57CSwGyxlDo



Share
Tweet
Pin
Share
2 comments

~ Part 35 ~
Aku Cinta Kamu

Abi membaringkan Arini di atas ranjang. 
“Om!” 
“Hmmm.... 
“Abi melepas semua yang melekat di tubuh Arini, dan juga pakaiannya sendiri. 
“Om.” 
“Ya, Sayang, ada apa?”
 “Om cintakan sama aku?”
 “Kenapa tanya begitu, Sayang?” 
“Tuh kan ngeselin, kalau ditanya balik bertanya!” 
Arini menarik selimut menutupi ketelanjangannya. 
Dipunggunginya Abi, bibirnya terlihat manyun. 
Abi tersenyum. Abi memasukan kepalanya lewat selimut bagian bawah, dikecupnya kaki Arini dari jarinya terus naik sampai ke pangkal paha Arini.
“Aku cinta kamu,” ucap Abi dalam setiap kecupannya, melambungkan hati Arini hingga ke angkasa.
 Bibir, dan lidah Abi bermain-main sebentar di atas paha Arini, hingga Arini mendesah, mengerang, dan mendesis. 
Kecupan Abi naik ke atas perut. 
“Sayangku, baik-baik di dalam rahim bundamu ya,” bisiknya. 
Kecupan Abi naik lagi ke atas dada, dan masih terus setiap kecupan satu ucapan, ‘aku cinta kamu’. 
Lama Abi bermain-main dengan buah dada Arini. 
“Sebentar lagi aku harus berbagi ini dengan anakku, sekarang puas-puasin dulu,” gumamnya. Arini hanya mendesah, dan mengerang merasakan cumbuan Abi. 
Bibir Abi naik ke bahu, dan leher. 
Naik lagi ke pipi, ke mata, ke kening, dan ke rambut. Lalu ke bibir.
 “Aku mencintaimu dari ujung kaki hingga ujung rambutmu, Sayang,” 
bisik Abi tepat di depan wajah Arini. Arini tersenyum sumringah. 
Dikalungkan tangan di leher Abi.

Sialahkan klik link atau lihat video di bawah ini untuk melanjutkan ceritanya...👇👇
https://youtu.be/UA_bAOuP7is


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

💝 Part 34 💝
Hamil

Arini mengambil sesuatu dari rak kecil di atas wastafel. 
“Nih, subuh tadi sudah aku test pake testpack, hasilnya positif, punya Om hebat, nggak sia-sia sampai pegal main ular tangga seiap malam,” cerocos Arini. 
Abi meraih Arini ke dalam pelukannya, dicium kening Arini bertubi-tubi. 
“Aku mau telpon Mamah, telpon Kakek, dan Nenek.
 Telpon Mbak Arnita sama tante Tata!” 
Abi ingin ke luar kamar mandi, tapi Arini memegang tangan Abi. 
“Nanti saja, Om. 
Kita ke dokter dulu untuk memastikan, setelah itu baru mengabari yang lain,” kata Arini. 
“Ooh, begitu ya, terserah kamu saja, Sayang. Suamimu ini menurut saja.”
“Aku mau mandi dulu, lalu sarapan, setelah sarapan, baru kita ke dokter ya, Om. 
Om kerja nggak hari ini?”
 “Hari ini libur saja, ayo mandi berdua.” 
“Mandi berdua?” 
“Iya, biar cepat selesainya, cepat juga kita ke dokternya.” 
“Iih modus banget siih, Om.”
 “Biar, ayo kita mandi!”
 Abi membawa Arini ke dalam bathtubh. Dan, satu ronde lagi percintaan mereka terjadi.
 Selesai mandi, Arini memperhatikan tubuhnya.
 ‘Aduuh si Om kecupannya dari leher, sampai ke paha. 
Ke dokter kandungan pasti harus memperlihatkan perut ya. 
Aduuh apa kata dokternya, kalau perutku penuh kecupan begini,’ gumam hati Arini.
 “Kenapa, Sayang?” tanya Abi. 
“Om, aku malu ke dokter,” jawab Arini manja.
 “Kenapa?” tanya Abi bingung. 
“Lihat, banyak kiss mark di perutku, apa kata dokternya nanti.” 

Silahkan Klik link atau lihat video di bawah ini untuk melanjutkan ceritanya...👇👇
https://youtu.be/5r1uM9RASzg

\


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

~ Part 33 ~
Kejar Setoran


Abi beringsut mundur untuk bersandar di kepala ranjang dengan bantal sebagai sandarannya. “Kenapa sih, geser-geser melulu?” tanya Arini. 
“Capek rebahan, apa lagi Arini sekarang tambah besar, tambah berat.”
 “Masa sih aku tambah besar?”
 Arini mengamati tubuhnya sendiri. 
Meraba-raba buah dadanya sendiri. 
“Ini tambah besar juga nggak, Om?” tanyanya. 
Abi menangkup buah dada Arini dengan dua tangannya. 
Buah dada Arini tenggelam dalam tangkupan besarnya telapak tangan Abi.
 Abi menggeleng dengan senyum miring di bibirnya. 
“Masih sama dengan kemaren,” katanya.
Wajah Arini cemberut, bibirnya dimanyunkan. 
“Nanti aku mau beli cream pembesar payudara, biar Om senang!” sengitnya.
 “Eeh kok manyun, Arini kan tanya, ya aku jawab dengan jujur.”
 “Bisa nggak, Om bohong sedikit saja, untuk membuat hati istri senang?”
 “Memang Arini maunya, aku jawab apa tadi?” tanya Abi sambil menyubit dagu Arini.
 “Jawab, buah dadamu indah, Sayang.
 Mau besar, mau kecil, aku tetap suka kok, Sayang, begitu! 
Begitukan lebih enak terdengar di telinga, enak di dalam hati juga, Om.”
 “Ooh, begitu ya?” “Pantas saja, Om nggak bisa bikin istri Om dulu jatuh cinta.
 Karena Om nggak bisa memenangkan hati wanita, untung aku cinta mati sama Om, jadi nggak perduli, Om itu bagaimana, asal Om jangan nggak setia saja,” cerocos Arini. 
Abi tersenyum sumringah mendengar perkataan Arini.
 “Terimakasih sudah mencintai aku apa adanya, Sayang.”
 Abi meraih kepala Arini. Dilumatnya bibir Arini. 
Arini melingkarkan tangannya di leher Abi. 

Silahkan klik link atau lihat video di bawah ini untuk melanjtkan ceritanya....👇👇https://youtu.be/R9T6IYn5ZLo



Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

Part 32
Istri Bos

Abi turun dari ranjang, ia bermaksud membopong Arini ke kamar mandi. 
Tapi tiba-tiba pintu diketuk. 
Tok... tok... tok.... 
“Assalamuallaikum.” 
“Walaikum salam, masuk,” jawab Abi, dan Arini berbarengan.
 Pintu terbuka. Masuk kakek, dan nenek Arini dari keluarga Sanjaya. 
Masuk juga Arnita, dan Bu Tata, nenek Arini dari keluarga Wicaksana. 
“Mamahmu yang telpon kami, Bi. Katanya Arini sakit,” kata Arnita. 
“Aku tidak sakit kok, Tante. Cuma habis kepanasan, dan kecapekan saja,” jawab Arini.
Arini asik mengobrol dengan kedua keluarganya. 
Kedua keluarga yang tadinya bertikai kini terlihat sangat akrab. 
‘Arini... dia jadi perekat dua keluarga sekarang, meskipun belum diketahui bagaimana reaksi Kakeknya dari keluarga Wicaksana jika mengetahui keberadaannya.’ 
Dan, Abi, sesekali memijit kepala, karena hasratnya yang gagal tersalurkan. 
‘Hhhh... Arini selalu memulai, dan tak jarang tidak dituntaskan. 
Aku yang jadi korban, celana jadi terasa kesempitan, 
kepala jadi terasa nyut-nyutan. Begini ternyata, kalau memiliki istri ABG labil. Sabaaaarrr.... ‘
👫💝👫
 Arini sudah tidur dengan nyenyak, sementara Abi tidak bisa tidur. 
Ularnya belum diberi makan. 
Ingin merasakan bercinta di dalam kamar mandi rumah sakit, gagal total, karena yang membesuk Arini seperti tidak ada habisnya. 
Dari keluarga Arini, kakak-kakak, dan keponakan Abi, sahabat-sahabat Arini, sampai yang terakhir mamah, dan papah Abi. 

Silahkan klik link atau video di bawah ini untuk melanjutkan ceritanya... ⬇️⬇️
https://youtu.be/twrFLxgITbk


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 Part 31
Harus Sabar

Arini menangkup wajah Abi.
“Jangan pernah ragukan cintaku juga ya, Om,” bisik Arini, lalu ia kembali mencium bibir Abi. Ciuman panas, dan panjang, mereka berlomba menarik napas saat melepas ciuman, tapi kembali saling memagut lagi, dan berhenti saat mendengar suara deheman Mia.
“Sudah bangun, Mi?” Tanya Abi tersenyum. Arini menunduk malu. Mia mendekati Arini, dan Abi.
“Maafkam aku ya, Arini. Sungguh aku tidak tahu kalau Abi sudah menikah lagi,” katanya tulus sambil memeluk Arini.
“Tidak apa-apa, Kak. Bang Abi sih tidak mau 
memperkenalkan aku pada keluarga besarnya. Juga di kantornya, kalau ketahuan sudah nikahkan tidak bisa lirik-lirik cewek lain lagi, Kak,” gurau Arini.
“Naah, tuh dengerkan, Bi. Apa yang dikatakan istrimu.”
“Ya ampun, Sayang. Tidak begitu, pasti nanti akan aku perkenalkan.”
“Aku cuma bercanda kok, Sayang,” sahut Arini sambil menarik hidung Abi.
“Aduh, kalau begini aku jadi ingin bertemu Mas Alfan,” canda Mia.
Tok ... tok ... tok....
“Assalamuallaikum,” kepala seorang pria muncul di pintu.
“Walaikum salam.... “ jawab ketiganya.
“Iiih, baru disebut, sudah muncul orangnya.” Mia berjalan ke arah suaminya.
“Sudah tidak ngambek lagi ya?” Tanya Alfan. Mia menggeleng. Alfan mendekati Abi, dan Arini.
“Apa kabar Bi?” Sapanya.
“Alhamdulillah baik, kenalkan, Arini istriku, Fan.” Abi mengenalkan Arini.
Mereka saling berjabat tangan.
“Maaf ya, Mia jadi merepotkan kalian berdua,” kata Alfan.

Silahkan klik link atau video di bawah ini untuk melanjutkan ceritanya... ⬇️⬇️
https://youtu.be/YEMBWT40sSg


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 Part 30
Jangan Ragukan Aku

Abi keluar dari kamar, rambutnya basah habis mandi.
“Kamu dari mana, Mia. Masih kacau begitu rambutmu?” Tanya Abi. 
“Tadi ada anak ABG datang, aku tanya cari siapa, eeh malah kabur, nih rantang makannya jatuh di depan pintu,” jawab wanita yang dipanggil Abi, Mia. 
Abi mengamati tas berisi rantang di tangan Mia. 
“Ya Tuhan ... itu Arini, istriku, pasti dia salah paham, cepat kamu mandi, Mia. 
Kamu harus ikut aku untuk menjelaskan kalau kamu itu sepupuku!” Abi terlihat panik. “Istrimu? ABG tadi, tidak salah?” Tanya Mia tidak percaya.
 “Iya, ABG itu Arini, istriku. Cepat kamu mandi sana!” 
Desak Abi tidak sabar.
 Selagi Mia, sepupunya mandi. Abi menelpon Arini, tapi tidak ada jawaban. 
Abi menelpon rumahnya, bibik yang mengangkat, Abi minta kalau Arini pulang tolong dikabari. Abi mencoba menelpon Arini lagi, ponselnya tidak aktif. Menelpon bibik lagi, Arini belum pulang. Abi menghubungi sahabat-sahabat Arini, tidak ada yang tahu juga. 
‘Kamu kemana sayang? Kamu salah paham.... Aku tidak akan mungkin selingkuh, karena aku tahu benar sakitnya dihianati, aku tahu benar rasanya.... ‘ 
(*_*)
Abi menjalankan mobilnya pelan, menyusuri jalanan dari apartemen menuju rumahnya, yang mungkin saja Arini lalui. Mia sepupunya terpaksa sarapan dengan roti, dan susu kotak di dalam mobil karena Abi tidak mau diajak mampir untuk sarapan. 
Abi sudah mengitari beberapa tempat yang mungkin saja didatangi, atau dilewati Arini. 
Tapi Arini tidak ditemukannya juga. 
Abi menghentikan mobilnya di pinggir jalan. “Kenapa berenti?” Tanya Mia.

Silahkan klik link atau lihat video di bawah ini untuk melanjutkan ceritanya...
https://youtu.be/Tq6DqrJkgRI


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 Part 29 
Cemburu Buta

N enek Fathan hanya dua hari dirumah sakit,  
beliau boleh pulang sebelum kakek Fathan nya pulang dari Singapura.
Dan, selama dua hari juga Arini tidak melihat Fathan di kampusnya.
“Kalian melihat Kak Fathan tidak?” Tanya Arini, pada tiga sahabatnya.
Ketiga sahabatnya menggelengkan kepala mereka.
“Kemana ya dia?” Tanya Ina.
“Aku telpon Mamahnya dulu ya,” kata Arini.
Arini menelpon Arnita, ternyata kata Mamahnya, Fathan pergi ke Turki mengunjungi orangtua Ayahnya yang
tinggal di sana.
“Kak Fathannya ke Turki, Rin?” Tanya Ina yang ikut mendengarkan pembicaraan Arini ditelpon.
“Iya.”
“Dia sudah tahu ya, kalau kalian saudara, Rin?” Tanya Riri.
“Iya.”
“Bagaimana tanggapannya?” Tanya Lisa.
“Dia bilang l, dia perlu sendiri, karena ini begitu tiba-tiba.”
“Lebih cepat dia tahu lebih baik, biar dia bisa segera mengubah cintanya jadi cinta pada saudara Rin,” kata Ina.
“Iya, Na. benar,” kata Arini.
                       🌹🌼🌹
Abi menelpon Arini kalau dia akan pulang telat karena banyak hal yang harus diselesaikan.
“Assalamuallaikum, Sayang.”
“Walaikum salam, Om sayang.”
“Aku pulangnya agak malam, Sayang. Jangan ditunggu buat makan malam ya, kamu makan duluan saja.”
“Aah ... tidak enak makan sendirian,” rajuk Arini manja.
“Harus makan ya, Sayang. Nanti kalau sakit kita tidak bisa main ular tangga, kalau tidak bisa main ular tangga, tidak bisa cepet punya bayi. Makan ya, Sayang,” bujuk Abi.

Silahkan Klik Link atau Video di bawah ini untuk melanjutkan menyimak ceritanya.⬇️⬇️
https://youtu.be/fReHhv5vw1U



Share
Tweet
Pin
Share
2 comments

 Part 28
Kenyataan Menyakitkan

Tiba di rumah sakit. Yang paling terkejut dengan kedatangan mereka adalah Fathan.
“Abi, Arini. Mamah, ini Abi, dan Arini, cucu Mamah sudah datang,” kata Arnita pada mamahnya yang berbaring dengan mata terpejam.
Kata-kata yang diucapkan Arnita, cukup jelas terdengar bagi Fathan. Fathan berdiri mematung di tempatnya.
‘Apa maksud kata-kata Mamah tadi? Arini cucu nenek, cucu dari mana? Bukankah Mamah anak tunggal? Lalu.... ‘
Fathan menatap dengan pertanyaan di dalam hati ke arah neneknya yang memeluk erat Arini seraya menangis histeris.
“Arini ... cucuku ... cucuku ... Arta ... Airin, ini anakmu. 
Ya Allah, terima kasih aku masih diberi kesempatan bertemu cucuku. Arini, panggil aku nenek, panggil aku nenek, Arini.... “
“Nenek,” bisik Arini lirih.
“Terima kasih ya Allah, terima kasih, masih Kau beri aku kesempatan memeluk putri, dari putraku satu-satunya.”
Mereka saling peluk, sama-sama menangis haru, dan bahagia.
Arnita menyusut airmatanya.
Mata Abi berkaca-kaca.
Sedang Fathan terpaku di tempatnya, tanpa bersuara, dengan benak dipenuhi tanya.
                       🌹🌼🌹
Bu Tata merenggangkan pelukannya pada Arini.
“Fathan, sini, Sayang. Ini Arini, dia saudara sepupumu.
Ayah Arini, adalah adik Mamahmu. Fathan, kaau harus menyayangi dia sebagai adikmu,” pinta Bu Tata dengan suara lirih.
“Mah, bisa jelaskan, ada apa sebenarnya ini, Mah!”
Fathan menatap mamahnya.
“Arini, dia sepupumu, Fathan, kalian saudara.”
“Tapi, bagaimana bisa, Mah?”
“Ayah Arini, adalah adik kandung Mamah, Fathan.”
“Mamahkan anak tunggal, Mah.”

Silahkan klik link atau lihat video di bawah ini untuk meneruskan ceritanya.. ⬇️⬇️
https://youtu.be/sADtTCurTNQ



Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 Part 27
Cinta Itu Buta

Abi membuka matanya, dilihatnya jam di 
dinding.
04.15. Arini tidur dengan kepala di atas bahunya.
‘Cantik... cantik sekali kamu Arini. Kehadiranmu sudah merubah duniaku. Duniaku yang tadinya terasa sepi, tanpa cinta seorang wanita, terasa jadi begitu indah sejak kehadiranmu. Duniaku yang tadinya hanya berkutat pada pekerjaan, jadi berubah sejak aku terbakar bersama api gairahmu.
Menatap wajahmu yang sendu.
Memandang tubuh mungilmu.
Mungkin orang tidak akan percaya kalau kamu itu seperti api, api yang selalu membakarku habis di atas ranjangku. Kamu membuat aku jadi orang yang berbeda, membuat hari-hariku jadi berbeda. Aku mencintaimu.. mencintaimu dengan segenap jiwa ragaku.’
Arini menggeliat.
Matanya terbuka, lalu matanya mengerjap sesaat.
“Enghhh... apa lihat-lihat, aku ngiler ya?” Tanyanya, sambil mengusap sudut bibir dengan jarinya.
Abi mendekatkan kepalanya.
Bibirnya mengecup bibir Arini, Arini membalas dengan lumatan.
‘Benarkan ... Arini selalu membuat aku terbakar.’
Arini melepas kecupannya.
“Sayang lagi M, jadi tidak bisa begituan ya, Om.”
“Tidak apa-apa, Sayang. Nanti kalau M nya sudah selesai, kita kebut tiga kali sehari ngegolinnya, biar cepat jadi dedenya,” jawab Abi.
“Tiga kali sehari? Memangnya minum obat?”
“Memang obat kan? Obat biar cepat punya anak.”
“Ingin sekali, cepat punya anak ya, Om?”
“Iyalah, aku kan sudah tua Arini, nanti aku tidak sempat meliat cucu, kalau sekarang belum punya anak juga.”

Silahkan Klik Link atau Lihat Video di Bawsh ini untuk Melanjutkan Ceritanya.. ⬇️⬇️
https://youtu.be/2pZPpIR62_Y



Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
  • Youtube

Categories

  • Internet
  • Kumpulan Novel
  • Membuat Email
  • Mempercantik Blog
  • Naruto Shippuden
  • OLAH RAGA
  • Tips Computer

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • January 2023 (5)
  • January 2022 (4)
  • December 2021 (10)
  • November 2021 (6)
  • October 2021 (5)
  • September 2021 (19)
  • August 2021 (3)
  • November 2013 (1)
  • October 2013 (6)
  • August 2013 (3)
  • July 2013 (1)
  • June 2013 (1)
  • April 2013 (2)
  • March 2013 (3)
  • December 2012 (10)
  • November 2012 (1)
  • October 2012 (5)
  • September 2012 (8)
  • May 2012 (1)

Copyright © 2023 Takatil Team. All Rights Reserved. Created with by ThemeXpose